Sejarah
Make commitment to a life time relationship with a dog / cat
download adoption form here >>

SEJARAH PENGAYOMAN SATWA DI INDONESIA

Tahun 1894 Oleh sekumpulan orang orang Belanda di Batavia (Jakarta) didirikan sebuah perkumpulan dengan nama “Vereeniging Voor de bescherming van dieren” (Perhimpunan untuk melindungi binatang). Perkumpulan tersebut selain memiliki sebuah tempat penampungan binatang binatang piaraan juga memiliki sebuah rumah sakit khusus untuk binatang piaraan.

Tahun 1932 Oleh istri Gubernur Jendral De Jong didirikan sebuah tempat yang disebut sebagai PAARDENFONDS (bana kuda) khusus untuk tempat tempat makan kuda kuda penarik delman atau sado sebagai tempat pemberhaentiannya di kota besar dan kecil di seluruh Indonesia.

Tahun 1948 Di Jakarta didirikan Yayasan Penyayang Binatang sebagai kelanjutan perhimpunan untuk melindungi binatang dari zaman hindia belanda. Yayasan ini mengelola tempat penampungan binatang piaraan yang terletak di jalan Gunung Sahari.

Tahun 1984 Tertarik oleh keadaan tempat penampungan binatang-binatang tersebut istri duta besar belanda Van Dongen mendirikan sebuah CLUB OF ANIMAL LOVERS. Yang menjadi anggota selain istri beberapa duta besar asing lainnya, juga istri beberapa menteri kita, istri Gubernur DKI dan beberapa tokoh masyarakat Indonesia lainnya. Tugasnya mencari dana untuk membantu pemeliharaan tempat penampungan binatang di jalan Gunung Sahari itu, tetapi tempat tersebut yang karena tuanya dan letaknya yang makin lama makin terdesak oleh tempat tempat pertokoan sudah semakin memperhatikan sehingga tidak mungkin dipertahankan lebih lama lagi terlebih lebih karena kenyataannya tempat tersebut dijadikan usaha perseorangan untuk kepentingan pribadi yang mengelola. Maka timbulah keinginan untuk mengambil alih pengelolaannya, berhubung pada saat itu Club of Animal Lovers diketuai oleh seorang warga negara asing, maka hal itu tidak dapat dilaksanakan.

Saat itu Ibu Sopiah adalah salah seorang ibu yang amat peduli dengan satwa,sehingga ketika orang-orang asing tersebut kembali ke-negaranya , Ibu Sopiah tetap setia mengumpulkan makanan dan mencari sumbangan untuk satwa-satwa di gunung Sahari tersebut.

Ketika PPS pindah ke Rangunan, Ibu Sopiah kembali ke Semarang membawa semua anjing-anjing beliau sementara anjing-anjing dan kucing-kucing lain milik Yayasan tersebut dipindah ke Rangunan.

Tahun 1985 Maka didirikanlah Yayasan Pengayom Binatang dengan tokoh tokoh masyarakat Indonesia sendiri serta dengan melibatkan pimpinan tempat penampungan binatang di jalan Gunung Sahari. Dengan demikian Yayasan PENYAYANG Binatang dilebur menjadi satu dengan Yayasan PENGAYOM Binatang.

Tahun 1987 Atas prakarsa Ibu Soeprapto istri Gubernur DKI Jakarta pada saat itu di daerah Ragunan telah berdiri sebuah tempat penampungan binatang piaraan yang baru dengan nama PONDOK PENGAYOM SATWA. Tempat yang berada di jalan Gunung Sahari ditutup dan satwa 2 terutama anjing dan kucing dipindahkan ke tempat yang baru di Ragunan.

Tahun 2002 Yayasan ini berubah nama menjadi HIMPUNAN PENYAYANG BINATANG organisasi yang membawahi Pondok Pengayom Satwa.Selanjutnya para penyayang Satwa berkumpul untuk ikut membantu PPS tersebut.

Saat ini telah banyak perubahan-perubahan yang telah dilaksanakan untuk mendisiplinkan tatanan PPS mulai dari Ruang Tunggu, dapur sampai tempat perwatan hewan (rawat) inap. Sementara data-data dari hewan-hewan dan nama setiap blok kandangnya tersebut sudah disusun dan tercatat dalam dokumen PPS, yang isinya dilengkapi dengan status terakhir dari satwa tersebut (umur,data kesehatan, kebutuhan yang dibutuhkan oleh hewan tersebut sebelum di adopsi, dll).

Pondok Penyayang Satwa melaksanakan tugas tugas melayani para penyayang binatang dengan menjadi konsultan dan penerangan bagaimana cara mengasuh dan memelihara para binatang piaraannya, anatar lain :

- Mengadakan pengobatan dan perawatan binatang yang sehat maupun yang sakit.

- Menerima penitipan dan penyerahan binatang binatang bila ditinggal bepergian jauh maupun bila ada acara lain dirumah.

- Melayani para penyayang binatang yang ingin mengadopsi binatang untuk dipiara dirumahnya.

- Mengadakan tempat penguburan binatang binatang yang mati.

- Mengadakan perawatan binatang antara lain mandi, groming dan lain sebagainya.

- pondok Pengayom Satwa dipimpin oleh seorang dokter hewan dengan dibantu oleh 2 orang dokter hewan dan staf sekretariat, karyawan bagian kebersihan, dapur, perawat, keamanan dan lain sebagainya.

Dalam mengadakan pelayanan yang kami sebutkan diatas, Pondok Pengayom Satwa mengadakan kerja sama dengan para penyayang dengan baik dan memberikan biaya biaya yang sudah diatur dalam peraturan PPS.

Biaya operasional PPS didapat dari partisipasi beberapa penyayang binatang dengan memberikan bantuan/donasi berupa uang atau bahan makanan binatang dan biaya biaya dari tugas tugas pelayanan diatur oleh pimpinan PPS.

Sampai hari ini PPS telah berhasil membayar sendiri (secara mandiri) mengatasi biaya operasional setiap bulan dan gaji untuk para karyawan bilaman sangat diperlukan Himpunan Penyayang Binatang (HPB) baru membantu sesuai dengan kemampuan HPB.

Mengingat bahwa keberadaan PPS saat ini adalah satu satunya yang ada di jakarta-kedua ada di Bali maka keberadaan PPS ini ternyata sangat diminati oleh para penyayang binatang dan masalah masalah apapun selalu kita pecahkan bersama dengan para langganan kita

img_1